Jejak Kain Nusantara

Indonesia terkenal dengan budayanya yang kaya. Salah satu yang menarik adalah ragam kain yang dihasilkan dari berbagai daerah di Indonesia. Jenisnya pun beragam, dari batik hingga tenun. Yuk, intip berbagai kain cantik dari berbagai daerah di nusantara.

1. Kain Tapis

Kain saring berupa sarung dan terbuat dari benang katun yang dijalin dengan motif benang perak atau emas. Cara membuat kain Lampung ini adalah dengan menyulam. Ada banyak gaya juga. Misalnya alam, flora, fauna dan kaligrafi. Untuk membuat kain saring, dibutuhkan waktu yang cukup lama tergantung dari pola dan benang. Misalnya membuat filter dengan banyak benang emas bisa memakan waktu hingga lima bulan.

Menurut seorang pengrajinnya, Ida Mustika, kain tradisional ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan biasanya dikenakan oleh pengantin atau pemimpin adat. Namun sayangnya, ketika Jepang menjajah negara tersebut, penyaringannya hilang. Menyadari hal tersebut, hati nurani Ida terpukul. Dia kemudian menemukan cara untuk menghidupkan kembali filter tersebut.

Ida mencoba bertemu dengan tokoh adat dari Lampung Selatan, Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Bandar Lampung. Ia berpesan kepada para tokoh adat agar produksi kain tapis harus terus digenjot, tujuannya agar tidak hilang dan dicintai masyarakat.

Selain kain tapis, ada yang unik, yaitu kain bordir untuk usus. Kain ini merupakan salah satu kain tradisional yang digunakan oleh gadis-gadis Lampung di acara pernikahan. Unik banget, karena kain ini dibordir menyerupai usus halus dalam berbagai bentuk.

2. Tenun Majalaya

Bagi pecinta wastra Indonesia, perlu menambahkan Majalaya pada koleksi kainnya yang hingga saat ini masih mempertahankan sisi tradisionalnya yaitu pembuatan kain dengan alat tenun non mekanis (ATBM). Adapun ciri khas Tenun Majalaya adalah Seribu Manis dan Corak Bintang yang merupakan perpaduan antara tenun melengkung dan tenun tali.

Cucu Juariah, seorang penenun Majalaya, mengatakan bahwa pola-pola ini merupakan motif klasik yang tercipta saat kain ini pertama kali dibuat. Sekarang menghasilkan pola seperti Weaving Thousand Sweet dan Star Pattern. Kedepannya juga akan berkembang motif tenun lainnya.

3. Pekalongan

Nah bagi pecinta batik, melihat kain batik Pekalongan yang cantik dan menarik adalah suatu keharusan. Sama seperti batik lainnya, batik Pekalongan memiliki corak dan corak yang beragam. Pada beberapa motif batik klasik Pekalong motif beton dimana pola ini hampir sama dengan motif di Solo dan Yogyakarta yaitu terdapat gambar tumbuhan dan elang dengan motif yang mengisi bentuk garis.

Sedangkan corak batik asli Pekalongan adalah corak Jlamprang yang merupakan corak nitik yang termasuk dalam corak batik geometris. Hal ini didorong oleh para pembatik yang konon merupakan keturunan Arab yang beragama Islam, dan tidak mau menggunakan perhiasan berupa makhluk hidup.

Ciri lain dari batik Pekalongan adalah warnanya yang cerah seperti merah, kuning, hijau, biru, ungu dan jingga. Ini karena pembatik tinggal di daerah pesisir sehingga menyukai warna-warna cerah.

Yang juga unik adalah Batik Pasema, namanya singkatan dari pagi, sore, siang, malam. Jika dilihat, batik ini memiliki corak dan pewarnaan yang sangat unik. Pada kain batik ada empat warna sekaligus yaitu biru, ungu, kuning dan jingga.

Keempat warna ada di kedua sisi kain. Di bagian depan ada warna biru dan jingga, sedangkan di bagian belakang menggunakan warna ungu dan kuning. Adonan yang sangat manis.

Selain dijuluki sebagai Kota Batik, Pekalongan menyimpan banyak peninggalan sejarah yang sangat memalukan. Antara lain Museum Batik dan berbagai cagar budaya lainnya yang memiliki sejarah kota dengan slogan kota batik dunia.

4. Kain Cual

Kain ini berasal dari Bangka yang terkenal sejak jaman penjajahan Belanda. Cual menunjukkan proses awal pewarnaan benang untuk membuat pola.

Tenun digunakan dengan menggunakan benang limar yang diproduksi oleh penenun perorangan, serta benang emas yang dibeli dari luar daerah. Karena kualitasnya yang begitu bagus, kain ini telah digunakan sebagai alat transaksi masyarakat Bangka. Bahkan, menurut Ketua Koperasi Kain Cual di Pangkal Pinang Martinah, pihak Belanda mengatakan bahwa jika ingin pergi ke kincir angin untuk berobat maka bayar dengan menggunakan kain masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *